Jatinegara – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman meninjau langsung lokasi bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, yang hingga saat ini masih berlangsung dan berpotensi meluas. Peninjauan dilakukan untuk memastikan langkah penanganan darurat yang cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan demi menjamin keselamatan warga terdampak, Rabu (04/02/2026).
Turut mendampingi dalam peninjauan tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal, Kepala BPBD Kabupaten Tegal, Kapolres Tegal, unsur TNI/Polri, Forkopimda, Forkopimcam, serta perangkat desa setempat.
Bencana tanah bergerak diketahui terjadi sejak Senin (02/02/2026). Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 14.00 WIB diduga menjadi pemicu, hingga sekitar pukul 19.00 WIB terdeteksi adanya pergerakan tanah. Sejak saat itu, BPBD Kabupaten Tegal bersama Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) dan unsur terkait langsung melakukan asesmen, koordinasi, serta evakuasi warga.
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyampaikan peninjauan lapangan merupakan tindak lanjut dari keputusan Forkopimda Kabupaten Tegal untuk melakukan evakuasi warga di wilayah rawan mengingat potensi terjadinya bencana susulan masih sangat tinggi.
“Kami bersama Forkopimda dan unsur lainnya hari ini meninjau langsung lokasi. Ini tindak lanjut dari keputusan semalam untuk mengevakuasi masyarakat di Pedukuhan Tigasari dan sebagian Pedukuhan Padareka karena kami khawatir akan terjadi pergerakan tanah susulan,” ujar Bupati.
Bupati menjelaskan hingga saat ini tercatat sekitar 200 rumah atau 200 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 700 jiwa telah dievakuasi ke sejumlah titik pengungsian yang dinilai lebih aman.
“Total warga yang mengungsi sekitar 200 rumah atau 200 kepala keluarga dengan jumlah kurang lebih 700 jiwa. Mereka tersebar di beberapa titik pengungsian, di antaranya di rumah Bapak Kamal, SD Negeri 1 Padasari, serta di majelis taklim di belakang rumah Kepala Desa,” jelasnya.
Bupati menegaskan sejak malam kejadian, pemerintah daerah telah mengambil langkah tanggap darurat, mulai dari penyediaan tenda pengungsian, dapur umum, hingga fasilitas penunjang lainnya.
“Alhamdulillah, sejak semalam kami sudah menyiapkan tenda darurat lengkap dengan alas, dapur umum di dua titik, serta toilet portabel sebanyak lima unit. Untuk sementara, toilet existing di rumah warga juga masih dimanfaatkan,” imbuhnya.
Terkait kondisi korban, Bupati memastikan tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun demikian, dampak kerusakan cukup signifikan, termasuk pada permukiman warga dan fasilitas umum.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Tetapi perlu kami sampaikan, sekitar 200 rumah mengalami kerusakan, baik rusak ringan maupun rusak berat. Bahkan ada beberapa bangunan roboh, termasuk fasilitas pendidikan di SMA NU Al-Adalah yang berada di kompleks Pondok Pesantren Al-Adalah,” ungkapnya.
Bupati juga menegaskan status tanggap darurat bencana telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Tegal.
“Hari ini sudah kami tetapkan status tanggap darurat bencana melalui SK Bupati, sekaligus mengaktifkan pos komando dan satgas kebencanaan. Komandan satgas adalah Sekretaris Daerah dengan pengarah dari Forkopimda” tegasnya.
Dalam pemaparan bersama Gubernur Jawa Tengah, Bupati menyampaikan hasil pendataan sementara tingkat kerusakan bangunan per 4 Februari 2026 pukul 14.10 WIB. Dari total 161 unit rumah yang telah terdata, sebanyak 109 unit mengalami rusak berat, 26 unit rusak sedang, dan 26 unit rusak ringan. Secara keseluruhan, dampak bencana diperkirakan mencapai sekitar 250 rumah dengan jumlah penduduk terdampak sekitar 250 KK atau 760 jiwa.
Selain permukiman warga, bencana ini juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur vital, meliputi tiga titik jalan desa dan kabupaten, satu bendung irigasi, serta satu jembatan desa. Sejumlah fasilitas pemerintahan, pendidikan, peribadatan, dan layanan kesehatan turut terdampak.
Sementara itu, total pengungsi hingga saat ini tercatat sebanyak 1.154 jiwa, terdiri atas 628 warga dan 526 santri yang tersebar di berbagai lokasi pengungsian, di antaranya rumah warga, majelis taklim, sekolah, serta pondok pesantren.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam arahannya menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh unsur serta penanganan yang tidak bersifat sementara semata.
“Saya minta seluruh unsur siaga. Harus ada langkah antisipasi dan pencegahan. Jangan sampai ada kejadian susulan yang tidak tertangani” tegas Gubernur.
Gubernur juga menegaskan penanganan bencana harus menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga jaminan masa depan masyarakat terdampak.
“Kita tidak bisa hanya memberi bantuan lalu selesai. Semua yang membutuhkan hunian sementara dan hunian tetap harus didukung. Hari ini di Tegal, semua harus cukup, mulai dapur, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Jalan dan jembatan itu prioritas. Kalau ada jembatan putus, maksimal satu minggu harus selesai, bahkan tiga hari sudah tertangani,” ujarnya.
Gubernur menambahkan sekitar 250 rumah diperkirakan tidak dapat dibangun kembali di lokasi semula sehingga penyiapan hunian menjadi prioritas utama.
“Huntara itu diproyeksikan menjadi huntap. Fasilitas umum harus lengkap. Dinas Sosial provinsi dan kabupaten harus memikirkan masa depan masyarakatnya,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Tegal bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan penanganan darurat akan terus dilakukan secara terpadu selama masa tanggap darurat 14 hari sembari menunggu rekomendasi teknis dari Badan Geologi terkait keamanan lahan dan rencana relokasi warga terdampak. (ZS/MA)







